Posted by : Unknown Kamis, 17 September 2015



Teknologi Ramah Lingkungan
Dunia dewasa ini selalu  memiliki inovasi terbaru masalah teknologi. Sehingga setiap negara selalu mengeluarkan teknologi mereka sendiri yang bersaing dengan negara lain. Namun dibalik itu semua ada 2 dampak, yaitu positif dan negatif sehingga terkadang menimbulkan beberapa kontroversi.
Dampak positif dari teknologi tsb adalah dapat memajukan sebuah negara dengan teknologi rancangan mereka sendiri, dan itu dapat berguna bagi nusa dan bangsa. Dan tentunya bagi masyarakat negara itu sendiri. Namun masih tetap ada dampak negatif dari teknologi, yaitu: kerusakan lingkungan, polusi, dan yang paling sering sikap individualisme bagi para penggunanya. Namun itu semua bergantung pada usernya sendiri.
Di artikel ini kami akan membahas beberapa inovasi teknologi yang dapat memajukan bangsa dan negara, seperti :
 
                       >>>  Bonggol Jagung...langsung cek dibawah saja
Bonggol Jagung
Bonggol jagung merupakan salah satu limbah lignoselulosik yang banyak tersedia di Indonesia. Limbah lignoselulosik adalah limbah pertanian yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Masing-masing merupakan senyawa-senyawa yang potensial dapat dikonversi menjadi senyawa lain secara biologi. Selulose merupakan sumber karbon yang dapat digunakan mikroorganisme sebagai substrat dalam proses fermentasi untuk menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi tinggi (Suprapto dan Rasyid, 2002 dalam Shofiyanto, 2008).
Karakteristik kimia dan fisika dari bonggol jagung sangat cocok untuk pembuatan tenaga alternative,karena study literatur menyebutkan bahwa Bioetanol ternyata memiliki kelebihan dibandingkan BBM. Diantaranya bioetanol ternyata memiliki kandungan oksigen yang lebih tinggi yaitu 35% dibanding BBM yang hanya 18,66%.
Setelah lignin dilepas dari selulosa barulah si bojag dapat diolah dan masuk ke proses berikutnya untuk memproduksi gula yang nantinya akan difermentasi sebagai bioetanol. Pada proses ini serbuk bonggol jagung hasil delignifikasi dapat diproses melalui 2 metode, melalui hidrolisis dan dapat juga melalui metode sakarifikasi enzimatik. Namun  dari beberapa jurnal penelitian mengenai pembuatan bioetanol dari si Bojag kebanyakan peneliti memilih menggunakan hidrolisis dengan asam dari pada metode simultan sakarifikasi menggunakan enzim. Pada studi literatur dijelaskan bahwa pembentukan etanol dengan cara sakarifikasi  lebih cepat dan inhibitor oleh konsentrasi glukosa yang tinggi dapat diatasi. Namun pada penelitian yang dilakukan Mitra Oktavia dkk(2013) pada Maret 2013 diperoleh hasil yang bertolak belakang dengan literatur yang ada, pembentukan etanolnya cukup lama dihitung dari proses sakarifikasi yaitu 99,5 jam (>3 hari). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Dewi Indryani (2013)  yang menggunakan metode hidrolisis asam diperoleh hasil etanol pada jangka waktu proses 49,5 jam (<3 hari). Begitu juga hasil penelitian yang dilakukan oleh  Fitriani,dkk (2013) dengan metode hidrolisis asam yang memperoleh bioetanol < 3 hari.
Hal ini disebabkan karena kelemahan pada metode sakarifikasi adalah suhu optimum untuk selulase dan mikroorganisme berbeda sehingga perlu sangat diperhatikan dan dijaga dalam prosesnya. Dari penelitian tersebut menunjukkan metode hidrolisis jauh lebih baik digunakan dari pada sakarifikasi mengingat harga enzim yang cocok digunakan untuk proses sakarifikasi sangat mahal harganya.Namun tetap perlu dilakukan penelitian lanjut metode mana yang paling tepat dan efisien waktu dan biaya dalam membuat produksi gula dari si bojag kedepannya.
Tahap terakhir dari proses ini bisa diikuti dengan pemurnian. Untuk memisahkan alkohol dari hasil fermentasi dapat dilakukan dengan destilasi. Destilasi adalah metode pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih. Proses ini dilakukan untuk mengambil alkohol dari hasil fermentasi. Destilasi dapat dilakukan pada suhu 80°C, karena titik alkohol 78°C. sedangkan titik didih air 100oC. Destilasi adalah memisahkan komponen-komponen yang mudah menguap suatu campuran cair dengan cara menguapkannya (separating agent-nya panas), yang diikuti dengan kondensasi uap yang terbentuk dan menampung kondensat yang dihasilkan. Uap yang dikeluarkan dari campuran disebut sebagai uap bebas, kondensat yang jatuh sebagai destilat dan bagian campuran yang tidak menguap disebut residu (Astuti,Puji dkk.2013)
Bioetanol yang diperoleh dari si Bojag memiliki nilai energi sebesar 122 MJ/kg. Pengunaan Bioetanol sebagai bahan bakar  baik sebagai campuran bahan bakar bensin atau solar atau sebagai pengganti bensin telah dahulu dilakukan dibeberapa negara seperti Australia, dan Brazil. Sudah saatnya Indonesia juga melakukan biotransformasi Limbah seperti Limbah jagung si Bojag sebagai sesuatu yang bernilai ekonomis yang dapat membantu pemecahan permasalahan bahan bakar di Indonesia saat ini. Hal ini juga dapat dilihat dari banyaknya produksi komoditas jagung yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia walau tidak tersebar secara merata. Untuk itu pemerintah perlu memperhatikan petani jagung dan kualitas produksi komoditas jagung di Indonesia dengan kawasan yang terintegritas sehingga persediaanya tetap meningkat dengan biaya produksi stabil. Serta membuat suatu kebijakan dalam penanganan limbah bonggol jagung agar bernilai ekonomis dalam proses pengadaan bioetanol sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan. Dengan memilih metode proses produksi yang pas berdasarkan ulasan diatas penulis percaya Bioetanol dari Bojag bisa menjadi primadona alternatif bahan bakar di Indonesia.
Kesimpulannya:
  >>Bojag alias Bonggol Jagung diketahui lebih bermanfaat daripada Bahan Bakar Minyak Lainya, ini dikarenakan oleh penjelasan diatas tadi. Namun sayangnya di negara kita Indonesia, Bojag ini belum dimanfaatkan secara maksimal, dan kurangnya perhatian dari pemerintah ttg teknologi inovatif ini. Maka dari itu, hendaknya pemerintah memerhatikan perkembangan teknologi yang dibuat oleh masyarakat sehingga dapat memajukan dan membangun negara Indonesia. Sekian :)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Copyright © Waroeng Code
Date A Live
Modifed by Didin Tri .A